<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944</id><updated>2012-02-16T10:06:09.044-08:00</updated><category term='01-Tentang Kami'/><category term='04-Artikel di AdInfo'/><category term='02-Produk Kami'/><category term='03-Kegiatan Kami'/><title type='text'>WORD for MEN</title><subtitle type='html'>bring men into HIS real plan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-6335993027286565919</id><published>2009-08-10T18:41:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T18:45:40.088-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='04-Artikel di AdInfo'/><title type='text'>LAKI-LAKI SUMBER TELADAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada banyak cara yang dilakukan para ayah, agar anak-anaknya mengikuti apa yang ia katakan, tetapi tidak ada cara yang lebih efektif dari menjadi teladan bagi mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ayah dan anak laki-lakinya sedang menonton pertandingan sepak bola di televisi. Setiap kali sang ayah melakukan sesuatu hal -entah itu bersorak, bertepuk tangan, berdiri ataupun yang lainnya, si anak langsung mengikutinya, sambil matanya terus memperhatikan ayahnya. "Anak selalu menirukan apa yang dilakukan oleh orangtua mereka, karena itu berilah contoh bagi mereka untuk menggosok gigi setiap hari," demikianlah narasi sebuah iklan pasta gigi. Lalu, diperlihatkan bagaimana mereka berdua menggosok gigi bersama, sambil mata si anak terus memperhatikan ayahnya. Ini memang hanya iklan, tetapi ada satu kebenaran dan pesan moral yang tersirat di dalamnya, bahwa anak cenderung untuk meniru atau mengikuti perilaku orangtuanya. Ini hal yang sangat wajar, karena anak memang cenderung untuk meniru tindakan orang-orang yang lebih besar, tua atau dewasa, agar mereka terlihat sejajar atau dianggap sama dengan orang-orang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tak heran, jika ada ungkapan yang berkata: like father, like son. Artinya, sebagaimana perilaku seorang ayah, begitu pula perilaku anak laki-lakinya, begitulah kira-kira arti ungkapan itu. Kata-kata ungkapan atau narasi iklan yang mungkin telah sering kita dengar ini, memiliki kebenaran yang tidak dapat disangkal dan sekaligus juga menjadi peringatan bagi kita semua, para ayah. Peringatan penting, yaitu ... agar kita mengawasi sikap dan cara hidup kita di tengah-tengah keluarga kita, entah itu di dalam perkataan atau perbuatan kita sehari-hari. Mengapa? Karena, seperti contoh yang ditunjukkan di atas, anak-anak kita berpotensi untuk melihat dan meniru atau mengikuti perilaku kita sehari-hari, dan fakta menunjukkan bahwa perilaku yang buruk lebih mudah diingat, diikuti atau ditiru mereka. Apalagi, kita sebagai ayah dan kepala keluarga di hadapan anak-anak kita -yang mereka anggap sebagai figur yang luar biasa, maka segala perilaku kita akan lebih cepat mereka ikuti atau tiru daripada perilaku ibu mereka. “Aku nanti mau jadi seperti ayah,” begitulah anak-anak kecil seringkali berkata, entah mereka itu laki-laki atau perempuan, saat ditanya cita-cita mereka. Sebab itu, segala sesuatu yang diperkatakan atau diperbuat oleh sang ayah, entah itu baik atau buruk, hal itu akan langsung terekam dan mereka ikuti. Alasannya begitu sederhana, karena mereka ingin menjadi seperti kita, ayah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diuraikan dengan singkat di atas menunjukkan kepada kita semua, para ayah, bahwa kita adalah sumber teladan bagi anak-anak kita. Kita adalah sumber insprasi bagi cara mereka berkata-kata dan melakukan segala sesuatu di dalam hidup mereka sehari-hari. Karena itu, seperti telah disinggungkan di atas, kita mutlak harus mengawasi sikap dan cara hidup kita di tengah-tengah keluarga kita dari waktu ke waktu, baik itu sikap kita terhadap isteri dan anak-anak kita, saat menghadapi masalah berat atau melakukan kesalahan, termasuk pula di dalam kehidupan beribadah. Ingat, bahwa perilaku kita yang buruk akan lebih mudah dingat, diikuti atau pun ditiru oleh anak-anak kita, dan ... juga paling sulit dihapuskan dari memori mereka. Tak hanya itu, karena kita adalah sumber inspirasi bagi anak-anak kita, maka kita juga harus menjadi teladan bagi mereka, bagaimana mereka harus hidup dan melakukan segala sesuatu di dalam setiap aspek kehidupan mereka. Kita harus menjadi teladan kehidupan bagi anak-anak kita, dan itulah fungsi kita di tengah-tengah mereka. Itu artinya, kita harus senantiasa memiliki sikap dan cara yang baik tiap-tiap hari, agar hal tersebut boleh menjadi sebagai kompas dan cermin hidup bagi anak-anak kita, bukan hanya untuk hidup mereka hari ini saja, tetapi yang terutama boleh menjadi bekal hidup mereka kelak di masa depan. Bekal untuk menjalani kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin telah berusaha mengajar dan mendidik anak-anak kita dengan semaksimal mungkin, tetapi hal itu tidak akan tertanam dengan baik di dalam hati mereka dan memotivasi mereka untuk melakukannya, hingga mereka melihat contoh, panutan atau teladan nyata dari kehidupan kita sendiri, ayah mereka. Ketahuilah, tidak ajaran atau didikan yang begitu efektif bagi anak-anak, hingga mata mereka melihat teladan yang ditunjukkan atau ditinggalkan oleh ayah mereka. Contoh: hal mengasihi saudara. Kita tidak akan pernah bisa mengajar atau mendorong mereka untuk melakukan ajaran tersebut, jika kita sendiri masih sering menyakiti isteri mereka atau memusuhi saudara kita yang menyebalkan. Kita harus menjadi teladan terlebih dulu bagi mereka. Bahkan, fakta juga menunjukkan bahwa seringkali teladan yang dilihat anak-anak kita dari kehidupan kita sehari-hari, telah mengajar dan memotivasi mereka terlebih dulu untuk melakukan ‘teladan’ itu, sebelum kita sendiri mengajar atau mendidik mereka. Didikan membutuhkan teladan, dan teladan memberikan didikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, apabila kita sungguh-sungguh rindu, agar anak-anak kita boleh memiliki sikap dan cara hidup yang baik, maka kita tidak hanya cukup mengajar dan mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan, tetapi kita juga harus menjadi teladan hidup bagi mereka. Karena itu, hal terutama yang harus kita lakukan, yaitu bertobat dan berubah dari segala perilaku kita yang buruk selama ini. Kembali ke dalam jalan Tuhan. Dan, sejak hari ini, milikilah sikap dan cara hidup yang baik di tengah-tengah keluarga kita, agar anak-anak kita boleh melihat perkataan dan perbuatan kita, lalu ... mengikuti teladan kehidupan kita. Akhirnya, mari kita mau meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi kehidupan anak-anak kita, bukan hanya untuk hari ini tetapi juga untuk masa depan mereka, yaitu teladan kehidupan yang baik. Selamat menjadi teladan bagi anak-anak Anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-6335993027286565919?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/6335993027286565919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=6335993027286565919' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/6335993027286565919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/6335993027286565919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/laki-laki-sumber-teladan.html' title='LAKI-LAKI SUMBER TELADAN'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-2756574355619244239</id><published>2009-08-10T07:49:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T08:01:29.424-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='01-Tentang Kami'/><title type='text'>Lahirnya WORD for MEN</title><content type='html'>Tahun 1997 seorang rekan merekomendasikan sebuah buku berjudul Kesempurnaan Seorang Pria (karangan Ed Cole) kepada saya. Ketika saya membaca buku itu, halaman demi halaman dalam buku itu mulai memulihkan kepriaan saya di dalam Kristus. Sejak saat itu, ada satu kerinduan yang menggeliat di dalam diri saya. Kerinduan untuk melihat para pria Kristen mengalami pemulihan seperti yang telah saya alami di dalam Kristus, membagikan kebenaran firman Tuhan yang telah memulihkan kepriaan saya di dalam Kristus, dan merekomendasikan buku itu kepada setiap pria yang saya kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan itu makin menggeliat, setelah saya mengikuti acara Pria Sejati di Puncak selama tiga hari. Sebab itu, Oktober 2005, setelah melalui pergumulan di dalam doa, saya dan isteri saya memutuskan untuk terlibat lebih jauh di dalam kegerakan pemulihan kaum pria, sesuai talenta yang saya miliki. Kami memutuskan untuk menerbitkan sebuah renungan harian khusus bagi para pria Kristen: WORD for MEN. Sebuah renungan harian yang dirancang dengan begitu rupa, hingga benar-benar membumi dengan kehidupan para pria Kristen dan boleh menjawab kebutuhan rohani mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Februari 2006, oleh anugerah Alllah, terbitlah renungan harian bagi para pria Kristen yang pertama. Sebuah renungan harian yang lahir dari satu kerinduan untuk mem¬bawa para pria Kristen kembali ke dalam rencana Allah yang semula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Visi WORD for MEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;men who like HIS real plan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki yang memiliki tujuan, sikap dan cara hidup sebagaimana yang Allah rencanakan dari semulanya di dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik itu di dalam kehidupan iman, pernikahan, keluarga, pekerjaan dan pelayanan mereka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Misi WORD for MEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bring men into HIS real pla&lt;/span&gt;n&lt;br /&gt;Membawa para laki-laki masuk ke dalam rencana Allah yang sesungguhnya dan sepenuhnya di dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik itu di dalam kehidupan iman, pernikahan, keluarga, pekerjaan dan pelayanan mereka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lingkup WORD for MEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Aspek kehidupan seorang laki-laki dengan Allahnya&lt;br /&gt;• Aspek kehidupan seorang laki-laki dengan karakternya&lt;br /&gt;• Aspek kehidupan seorang laki-laki dengan pernikahannya&lt;br /&gt;• Aspek kehidupan seorang laki-laki dengan keluarganya&lt;br /&gt;• Aspek kehidupan seorang laki-laki dengan pekerjaannya&lt;br /&gt;• Aspek kehidupan seorang laki-laki dengan pelayanannya&lt;br /&gt;• Aspek kehidupan seorang laki-laki dengan komunitasnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-2756574355619244239?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/2756574355619244239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=2756574355619244239' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/2756574355619244239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/2756574355619244239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/lahirnya-word-for-men.html' title='Lahirnya WORD for MEN'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-4644184913736949361</id><published>2009-08-10T07:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T07:47:13.889-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='04-Artikel di AdInfo'/><title type='text'>SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Surga di bawah telapak kaki ibu. Ungkapan ini tidak hanya menunjukkan betapa besarnya peran seorang ibu, tetapi juga menunjukkan betapa tidak berperannya para ayah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga di bawah telapak kaki ibu. Tentu saja, ungkapan ini tidak berbicara secara harfiah bahwa para ibu sedang berdiri di atas surga atau sedang menginjak-injak surga, tetapi berbicara jika kita tidak ingin terintangi untuk masuk sorga, maka kita harus menghargai dan menghormati ibu kita. Ungkapan ini telah dibuat untuk menunjukkan betapa besarnya peran seorang ibu bagi kehidupan anak-anaknya, dan juga untuk mengingatkan kita senantiasa menghormati mereka. Pertanyaannya, mengapa tidak dikatakan di bawah telapak kaki orang tua? Mengapa hanya dikatakan di bahwa telapak kaki ibu saja? Apakah peran seorang ayah bagi anak-anaknya kurang berarti atau berharga dibandingkan dengan peran seorang ibu bagi anak-anaknya? Apakah peran seorang ibu lebih berharga, karena mereka lah yang telah melahirkan anak-anak mereka dengan mempertaruhkan nyawa mereka? Lalu, bagaimana dengan seorang ayah yang telah bekerja keras dengan tidak menghiraukan nyawanya, agar dapat membiayai persalinan anaknya dan mencukupi kebutuhannya? Saya percaya, bahwa para ayah dan ibu memiliki peran yang sama penting dan berharganya bagi anak-anak mereka, dan keduanya tidak dapat diperbandingkan manakah yang lebih penting dan berharga? Keduanya, para ayah dan ibu, masing-masing memiliki kadar peran dan pengorbanan yang berbeda dan saling melengkapi bagi anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada pertanyaan di atas, lalu mengapa selama ini hanya dikatakan bahwa surga di bawah telapak kaki ibu, dan bukannya di bawah telapak kaki orang tua? Ada apa dengan ayah? Menurut beberapa sumber munculnya ungkapan ‘surga di bawah telapak kaki ibu’ berkaitan erat dengan kondisi masyarakat pada masa yang lampau. Mengapa? Karena pada masa itu, kebanyakan laki-laki kurang perduli dengan keadaan isteri dan anak-anak mereka, dan sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tak hanya itu, tidak sedikit dari mereka yang juga meninggalkan keluarganya, bahkan menikah lagi dan melupakan keluarganya. Akibatnya, ada banyak isteri yang harus berperan sebagai single parent, untuk mengasuh dan merawat anak-anak mereka, sementara sang suami sibuk dengan urusannya sendiri atau pergi entah kemana. Karena itu, tak heran, jika peran seorang ibu menjadi begitu besar dan sangat berarti bagi kehidupan seorang anak, hingga mereka begitu menghargai dan menghormati ibu mereka. Begitu besarnya peran dan pengorbanan seorang ibu pada masa itu, hingga mereka mengganggap jika sampai ada seorang anak yang tidak menghormati ibunya, ia benar-benar keterlaluan dan tidak akan masuk surga. Jadi, jelas di sini, semuanya itu dimulai dari satu hal, karena ada ayah-ayah yang tidak berperan bagi kehidupan keluarga dan anak-anak mereka, seperti seharusnya seorang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diuraikan di atas menunjukkan, bahwa ungkapan ‘surga di bawah telapak kaki ibu’ tidak hanya dimaksudkan untuk menghargai dan menghormati peran seorang ibu bagi anak-anaknya, tetapi hal itu seharusnya juga menjadi introspeksi bagi kita, para laki-laki: sudahkah kita menjalankan peran kita dengan maksimal terhadap dan dalam kehidupan anak-anak kita? Ketahuilah, bahwa peran seorang laki-laki atau ayah tidak hanya berbicara soal nafkah belaka, tetapi jauh lebih luas dan komplek dari itu. Kita pernah membahas bahwa menjadi kepala keluarga tidak hanya berbicara status, tetapi lebih kepada fungsi kita untuk menjadi sumber bagi keluarga kita (AdInfo edisi Maret 2008). Ini berbicara peran kita bagi anak-anak kita. Ketahuilah, bahwa bukan tanpa maksud Tuhan telah menitipkan anak-anak kita kepada kita, tetapi supaya kita boleh melakukan peran kita sebagai ayah bagi mereka. Sebuah ‘peran’ yang tidak hanya sekedar memberi nafkah belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita melakukan flashback sejenak. Coba renungkan. Siapakah yang mengawasi anak kita belajar dan membuat tugas sekolah? Siapakah yang mendorong anak kita pergi ke tempat ibadah? Siapakah yang mengajar anak kita untuk berdoa dan membaca kitab suci? Siapakah yang selalu menyediakan waktu untuk menunggui anak kita di sisi tempat tidurnya, saat ia sakit? Siapakah yang lebih banyak menaikkan doa-doa untuk anak kita, agar ia boleh tetap hidup di jalan Tuhan? Siapakah yang lebih dulu mendapati ketidakberesan yang terjadi pada anak kita? Siapakah yang lebih sabar mendengarkan curhatan anak kita? Nah, saat kita merenungkan beberapa pertanyaan ‘siapakah’ di atas, hasil apakah yang kita dapatkan? Ingat, ini baru sebagian kecil saja dari segudang pertanyaan yang serupa. Apakah sosok ‘siapakah’ itu lebih banyak isteri kita atau bahkan kita hampir sama sekali tidak ada? Jika itu yang terjadi, berarti peran kita masih jauh dari takaran yang seharusnya. Ada banyak laki-laki yang menjadikan kesibukannya bekerja sebagai kambing hitam dari ketidakberperanan dirinya sebagai ayah bagi anak-anak mereka, dan berkata, “Itu kan tugas isteri mengurus anak.” Isteri lagi yang salah. Ini adalah pengingkaran terhadap posisi dan peran kita sebagai seorang ayah terhadap anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, mari kita mau meningkatkan peran kita sebagai ayah bagi anak-anak kita, sebagaimana seha-rusnya. Anak-anak kita membutuhkan peran dari sosok ayah dan sosok ibu secara seimbang di dalam pertum¬buh¬an dan kehidupan mereka, agar mereka boleh berkembang menjadi pribadi yang utuh dan maksimal dari waktu ke waktu. Ketahuilah, bahwa berperan maksimal bagi anak-anak kita tidak harus memiliki waktu yang banyak, tetapi bagaimana kita mau selalu menyediakan waktu dan menyiasati waktu yang ada, agar kita dapat tetap berperan sebagai ayah bagi mereka dengan semestinya. Selamat berperan sebagai ayah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-4644184913736949361?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/4644184913736949361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=4644184913736949361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/4644184913736949361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/4644184913736949361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/surga-di-bawah-telapak-kaki-ibu.html' title='SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-452052646755302674</id><published>2009-08-10T07:38:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T07:42:33.481-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='04-Artikel di AdInfo'/><title type='text'>LAKI-LAKI YANG BERIBADAH?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada banyak laki-laki yang berpuas diri dengan kehidupan ibadah mereka yang &lt;br /&gt;pas-pasan, karena mereka tidak sadar akan manfaat yang terkandung di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo soal agama, itu urusan isteri saya. Bagian saya, cari nafkah sebanyak-banyaknya.” Kata-kata seperti ini seringkali dilontarkan oleh kebanyakan laki-laki, ketika orang bertanya tentang kehidupan ibadah mereka dan keluarga mereka. Bagi mereka, urusan ibadah bukanlah urusan laki-laki, tetapi urusan perempuan dan anak-anak. Karena itu, mereka tidak merasa perlu untuk menambahkan porsi ibadah mereka selama ini. Asal mereka sudah menjalankan standar kewajiban ibadah mereka, maka cukuplah itu. Tidak usah terlalu beribadah. Coba renungkan, jika kita mau jujur, bukankah kebanyakan dari kita tidak memiliki keinginan untuk memiliki porsi yang lebih di dalam menjalankan kehidupan ibadah kita? Misalnya, keinginan untuk kita berdoa lebih sering, membaca kitab suci lebih banyak, atau lebih giat mengikuti kegiatan ibadah. Kita cenderung berpuas diri dengan kuantitas dan kualitas ibadah kita yang pas-pasan itu. Mengapa ini bisa terjadi? Ada dua aspek di sini. Pertama, karena kita beranggapan bahwa itu adalah urusan perempuan dan anak-anak, dan kedua, karena kita tidak melihat manfaatnya jika kita menjadi lebih beribadah. Kita pikir ibadah cuman urusan akhirat saja, dan hanya sedikit menyinggung hidup urusan hari ini. Ini pemikiran yang keliru dan sekaligus sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah tidak hanya berbicara urusan di akhirat kelak, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya berguna untuk hidup yang akan datang, tetapi juga untuk hidup hari ini. Ada pepatah kuno yang mengatakan, “Ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” Tidak hanya berguna untuk perempuan dan anak-anak, tetapi juga terutama bermanfaat bagi kita, para laki-laki. Mengapa? Kita akan melihat beberapa alasan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu, agar kita boleh dihindarkan dan dijauhkan dari perilaku yang sia-sia dan cemar. Fakta menunjukkan bahwa ada banyak laki-laki –entah ia telah berkeluarga atau masih bujangan, yang telah terlibat atau melakukan hal-hal cemar dan merugikan, bahkan beberapa di antaranya harus mendekam di penjara. Ketika kita hanya memiliki kehidupan ibadah yang pas-pasan, maka kita mudah sekali terseret ke dalam perilaku yang cemar dan perbuatan yang nista. Fakta tentang tingginya angka pemerkosaan, kasus narkoba, dan yang serupa dengan itu, merupakan bukti betapa penting seorang laki-laki memiliki kehidupan ibadah yang mumpuni. Tak hanya itu, tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga, juga makin mempertegas hal tersebut. Karena itu, kita sungguh-sungguh perlu memiliki porsi kehidupan ibadah yang lebih lagi, agar kita boleh memiliki iman yang kuat untuk menghadapi berbagai godaan hawa nafsu yang ada di sekitar kita. Tentu saja, bukan hanya sekedar kedok agamawi belaka, tetapi benar-benar memiliki kehidupan ibadah yang tulus di hadapan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua, agar kita boleh menjadi imam bagi keluarga kita, untuk dapat menuntun mereka bagaimana mereka harus hidup dan beribadah kepada Tuhan. Laki-laki adalah imam di tengah-tengah keluarganya. Ini adalah satu fakta atau kebenaran yang telah disadari, dipahami dan diterima oleh hampir semua orang, golongan, etnis, budaya dan agama. Persoalannya, jika kehidupan ibadah dan iman kita sendiri pas-pasan, bagaimana kita dapat menjadi imam bagi isteri dan anak-anak kita. Ketahuilah, seperti yang kita lihat sendiri, hari-hari ini ada begitu banyak pengaruh buruk dan jahat yang bermunculan di sekitar kita, dan jika kita tidak bersegera untuk memper¬lengkapi isteri dan anak-anak kita dengan benteng iman yang kokoh, maka keluarga kita akan menjadi sasaran yang empuk bagi mereka. Maraknya perbuatan kriminal dan najis yang dilakukan anak-anak remaja, merupakan bukti dan peringatan betapa pentingnya para ayah untuk menjadi sosok yang beribadah dan terlibat langsung dalam pembinaan akhlak anak-anak mereka. Karena itu, kita perlu terus-menerus meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita, supaya kita dapat menjadi imam dan membentengi hidup isteri dan anak-anak kita dengan iman yang kokoh, supaya mereka tak mudah terseret oleh pergaulan yang buruk di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga, agar kita boleh menjadi teladan bagi keluarga dan komunitas kita, agar mereka tersadar dan terins-pirasi dengan kehidupan ibadah kita di tengah-tengah mereka. Ketahuilah, bahwa hari-hari ini dunia sedang mem¬butuhkan satu sosok atau figur yang boleh menjadi panutan mereka, bagaimana mereka harus hidup dan melakukan segala sesuatu dengan lebih baik. Ketika kita memiliki kehidupan ibadah yang baik dan tentu saja diiringi perubahan akhlak yang makin mulia, maka kita boleh mewarnai dunia yang telah kusam dengan dosa, agar boleh menjadi lebih baik dan semakin baik lagi. Kita mungkin tidak dapat melakukan perubahan seperti Bunda Theresa, Mahatma Gandhi atau tokoh-tokoh spiritual dunia yang lainnya, tetapi setidaknya kita bisa mewarnai keluarga dan tetangga dekat kita dengan kehidupan ibadah dan akhlak kita yang mulia. Karena itu, mari kita mau semakin giat untuk melakukan kehidupan ibadah kita, lebih daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang bukan hal yang mudah. Kita mungkin akan menghadapi ejekan atau cemooh dari komunitas kita, saat kita hendak beribadah dengan lebih lagi dari sebelumnya, tetapi jangan biarkan kata-kata mereka merintangi kita untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi. Akhirnya, mari kita mau semakin maju di dalam kehidupan ibadah kita dan meraih akhlak yang lebih mulia lagi. Ini semua demi kebaikan kita sendiri!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-452052646755302674?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/452052646755302674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=452052646755302674' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/452052646755302674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/452052646755302674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/laki-laki-yang-beribadah.html' title='LAKI-LAKI YANG BERIBADAH?'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-2255981040355250653</id><published>2009-08-10T07:33:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T07:36:53.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='04-Artikel di AdInfo'/><title type='text'>MERESPONI TEGURAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada banyak pria yang mengindentikkan ‘menerima teguran’ dengan ‘kelemahan’, hingga ada banyak dari mereka yang berusaha mati-matian untuk berkelit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkelit sebisa mungkin, dan jika sudah mentok lalu berusaha mencari kambing hitam, merupakan salah satu hal yang paling sering dilakukan kebanyakan laki-laki, saat mereka menerima teguran. Apalagi, jika orang yang menegur dirinya adalah orang-orang yang selama ini mereka anggap lebih rendah ‘kasta’nya, maka makin kuatlah ia berusaha untuk berkelit. Misalnya, teguran dari isteri mereka, anak-anak mereka, bawahan mereka, komunitas yang mereka pimpin, dan yang serupa dengan itu. Hal ini telah terjadi, karena ada banyak dari kita berpikir bahwa menerima teguran identik dengan kelemahan, yang bisa menjatuhkan harga diri kita sebagai laki-laki dan posisi yang kita pikul di tengah-tengah komunitas kita. Entah itu, di tengah-tengah keluarga kita, pekerjaan kita, atau komunitas di manapun kita berada. Ini pemikiran yang sempit dan kadaluwarsa. Tak hanya itu, tetapi juga hanya akan mendatangkan kerugian dan cemooh dari orang-orang di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Satu&lt;/span&gt;, mengapa pemikiran seperti ini dikatakan ‘sempit’, karena sesungguhnya tidak ada kaitan sama sekali antara menerima teguran dengan kelemahan. Ketahuilah, bahwa ‘teguran’ orang lain atau orang-orang di sekitar kita hanyalah menunjukkan bahwa ada satu atau beberapa hal yang harus kita benahi di dalam diri kita, atau apa yang sedang dan telah kita kerjakan. Tidak lebih. Inilah hanyalah sebuah koreksi dan kritik, yang tidak akan membuat kita terlihat lemah dan kehilangan harga diri, tetapi justru malah membenahi dan memaksimalkan diri kita dan apa yang akan kita kerjakan nantinya! Karena itu, jangan lagi kita berpikiran sempit saat menerima teguran, tetapi pakailah ‘teguran’ itu sebagai sarana untuk membenahi dan memaksimalkan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dua&lt;/span&gt;, mengapa pemikiran seperti ini dikatakan ‘kadaluwarsa’, karena sebenarnya sudah tidak zamannya lagi orang melihat hal menerima teguran sebagai sebuah kelemahan. Ketahuilah, bahwa hari ini orang justru melihat bahwa menerima teguran merupakan langkah untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi dan meraih hasil yang lebih maksimal lagi di dalam setiap aspek kehidupan mereka. Baik itu di dalam kehidupan pernikahan, keluarga atau pekerjaan. “Teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,” demikianlah bunyi sebuah amsal kuno. Karena itu, jangan lagi kita berpikir bahwa menerima teguran identik dengan kelemahan, karena itu adalah pemikiran yang kadaluwarsa. Bukan zamannya lagi berpikiran seperti itu. Ini untuk kebaikan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiga&lt;/span&gt;, mengapa pemikiran seperti ini dikatakan ‘merugikan’, karena hal seperti ini –seperti telah disinggung beberapa kali di atas, membuat kita terintangi menjadi lebih baik dan maksimal di dalam setiap aspek kehidupan kita. Ketahuilah, ketika kita mengeraskan hati, mentulikan telinga atau menutup mata kita terhadap teguran yang datang kepada kita, itu sama saja kita sedang melindungi dan membiarkan kesalahan-kesalahan yang ada pada diri kita. Ini hanya akan merugikan diri kita! Karena salah satu kunci keberhasilan seorang laki-laki di dalam kehidupan mereka, saat mereka mampu mengakui, menyadari dan membenahi kesalahan-kesalahan yang ada dalam diri mereka. Masalahnya, kenyataan juga menunjukkan, bahwa kebanyakan laki-laki yang telah membu¬takan mata hatinya terhadap teguran yang datang dan kesalahan yang ada pada dirinya, mereka cenderung untuk tetap ngotot mempertahankan kesalahan itu, agar mereka tidak terlihat lemah di depan isteri, anak atau komuni¬tas mereka. Demi ego mereka. Ini memang konyol, tetapi bukankah itu yang seringkali kita lakukan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Empat&lt;/span&gt;, mengapa pemikiran seperti ini dikatakan ‘mendatangkan cemooh’, karena tidak ada orang yang akan memuji atau menghormati kita, jika kita suka berkelit dan mencari kambing hitam. Ini fakta! Mereka justru akan mencemooh dan memandang rendah kita. Ketahuilah, harga diri seorang laki-laki bukan diukur dari kehebatan¬nya untuk berkelit dan mencari kambing hitam, tetapi dari keberaniannya untuk mengakui dan membenahi kesa¬lahannya. Sebab itu, kita perlu belajar untuk menanggalkan ego dan sikap pengecut kita, lalu mulai belajar untuk menerima setiap teguran dengan rendah hati dan mengakui kesalahan kita dengan apa adanya. Tanpa perlu berkelit atau mencari kambing hitam lagi. Nah, perlu digarisbawahi di sini, saat kita mau mengakui kesalahan kita –dan tentunya juga membenahi diri kita, maka isteri, anak atau komunitas kita justru akan semakin meng¬hormati kita. Bahkan, mereka akan mendukung dan membantu kita untuk membenahi kesalahan kita, agar kita boleh menjadi lebih baik lagi dan maksimal di dalam setiap aspek hidup kita. Namun, jika kita terus-menerus berkelit dan mencari kambing hitam saat orang menegur kesalahan kita, maka mereka akan menjadi malas untuk mengingatkan kita dan membiarkan kita dengan kesalahan kita. Kita tentu tidak mau hal ini terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, ketika kita mau menerima setiap teguran dengan rendah hati dan mengakui kesalahan kita dengan apa adanya, maka besar kemungkinan kita akan mendapatkan malu dan harus menanggung akibat dari kesalahan yang telah kita lakukan. Tetapi, ketahuilah, rasa malu dan akibat yang harus kita tanggung saat itu, akan menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan manfaat yang akan kita peroleh nantinya. Percayalah, seun¬tung-untungnya kita berkelit terhadap teguran yang diberikan dan mencari kambing hitam atas kesalahan yang telah kita lakukan, hal itu masih jauh lebih rugi dibandingkan dengan kita mau menerima dengan rendah hati setiap teguran yang datang dan mengakui kesalahan kita dengan apa adanya. Jangan salah pilih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-2255981040355250653?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/2255981040355250653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=2255981040355250653' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/2255981040355250653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/2255981040355250653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/meresponi-teguran.html' title='MERESPONI TEGURAN'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-3320773150058465051</id><published>2009-08-09T23:33:00.000-07:00</published><updated>2009-08-09T23:38:15.374-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='04-Artikel di AdInfo'/><title type='text'>LAKI-LAKI ADALAH KEPALA</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laki-laki adalah kepala keluarga dan kepala rumah tangga itu adalah fakta, tetapi bagaimana mengimplementasikan dengan benar itu jauh lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki adalah kepala keluarga dan kepala rumah tangga. Kepala atas isteri dan anak-anaknya. Ini adalah satu fakta atau kebenaran yang telah disadari, dipahami dan diterima oleh hampir semua orang, golongan, etnis, budaya dan agama. Namun, persoalannya, ada banyak dari kita yang telah memaknai dan mengimplementasikan secara sempit arti dari laki-laki menjadi kepala atas keluarganya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Realita menunjukkan bahwa pada umumnya kita hanya memahami posisi kita sebagai kepala atas isteri dan anak-anaknya hanya dalam dua aspek saja, bahwa kita 1] berhak sepenuhnya untuk menentukan jalan hidup keluarga kita dan 2] harus ditaati sepenuhnya oleh isteri dan anak-anak mereka tanpa banyak alasan. Akibatnya, ada banyak problema yang ditimbulkan oleh para suami dan ayah atas isteri dan anak-anak mereka, yang berujung dengan terjadinya kekerasan, kepahitan dan pemberontakan dalam rumah tangga mereka, seperti yang banyak kita lihat atau dengar di sekitar kita dan di berbagai media informasi. Ini adalah dampak yang wajar, ketika satu fakta atau kebenaran kita pahami secara sempit. Kita akan cenderung melakukan banyak kesalahan dalam memaknai dan mengimplementasikan fakta atau kebenaran tersebut, dan tentu saja pada akhirnya kita juga akan menimbulkan banyak problema dan perkara-perkara buruk yang lainnya di mana kita berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada pembahasan kita, bahwa laki-laki adalah kepala keluarga dan kepala rumah tangga. Ketika kita berbicara tentang kepala keluarga dan kepala rumah tangga, tentu kita tidak sedang berbicara arti yang tersurat, tetapi makna yang tersirat di dalamnya. Itu artinya, kita tidak cuma berbicara tentang posisi dan hak seorang pria atas isteri dan anak-anaknya, tetapi lebih kepada fungsi kita di tengah-tengah keluarga kita. Karena itu, mari kita sedikit bernostalgia dengan masa-masa kita masih duduk di bangku sekolah dulu, saat kita mengikuti pelajaran biologi yang penuh dengan kata-kata bahasa Latin. Kita tentu pernah belajar bahwa otak yang ada di dalam kepala kita merupakan pusat atau sumber dari semua gerakan tubuh kita. Otak kita inilah yang memberikan informasi kepada seluruh bagian tubuh kita apa yang harus dilakukan. Nah, apa yang dilakukan atau dikerjakan oleh otak kita ini, merupakan gambaran dari salah satu fungsi kita sebagai laki-laki di tengah-tengah keluarga kita, sebagaimana kita telah digambarkan selama ini sebagai ‘kepala’ atas rumah tangga kita. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak cukup hanya menjadi sumber nafkah bagi isteri dan anak-anak kita belaka –seperti yang dipahami oleh banyak dari kita selama ini, tetapi juga menjadi sumber informasi bagi mereka, bagaimana mereka harus hidup dan melakukan segala sesuatu. Sebagaimana halnya otak yang ada di dalam kepala kita memberikan informasi kepada seluruh anggota tubuh kita apa yang harus dilakukan. Inilah makna dan implementasi dari menjadi kepala keluarga dan kepala rumah tangga yang juga perlu disadari oleh setiap dari kita, para pria. Entah kita sebagai suami bagi isteri kita atau ayah bagi anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘sumber infomasi’ tidak hanya berbicara soal ‘perintah’ saja, melainkan mencakup banyak aspek dan bentuk, yang intinya memberikan informasi bagi isteri dan anak-anak kita bagaimana mereka harus hidup dan melakukan segala sesuatu. Kita akan melihat beberapa contoh praktis, bagaimana kita semestinya memaknai dan mengimplementasikan arti dari menjadi sumber informasi bagi isteri dan anak-anak kita. &lt;br /&gt;1. Kita menjadi sumber informasi bagi isteri dan anak-anak kita tentang Tuhan dan kehendak-Nya, serta bagaimana kita harus hidup beribadah kepada-Nya di dalam setiap aspek hidup kita.&lt;br /&gt;2. Kita menjadi sumber keputusan bagi isteri dan anak-anak kita, terutama saat kita dan keluarga kita hendak mengambil keputusan penting di dalam kehidupan rumah tangga kita.&lt;br /&gt;3. Kita menjadi sumber inspirasi bagi isteri dan anak-anak kita, saat mereka hendak melakukan segala sesuatu, agar mereka dapat melakukan dan meraih hasil yang maksimal.&lt;br /&gt;4. Kita menjadi sumber tuntunan bagi isteri dan anak-anak kita, saat mereka mengalami kebingungan atau ketidakmengertian tentang sesuatu hal di dalam setiap aspek kehidupan mereka.&lt;br /&gt;5. Kita menjadi sumber nasehat bagi isteri dan anak-anak kita, saat mereka melakukan hal-hal yang salah, buruk atau tidak patut, agar mereka sadar dan berubah dari kesalahan mereka.&lt;br /&gt;6. Kita menjadi sumber penghiburan bagi isteri dan anak-anak kita, saat mereka mengalami kesedihan dan kegagalan, agar mereka boleh dihiburkan, disegarkan dan dikuatkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tertulis di atas barulah sebagian kecil dari implementasi bagaimana kita semestinya menjadi kepala atas keluarga dan rumah tangga kita. Kita perlu belajar lebih banyak lagi, agar kita dapat menjadi kepala yang seharusnya bagi isteri dan anak-anak kita. Tetapi, satu hal yang pasti, bahwa menjadi kepala keluarga dan kepala rumah tangga tidak hanya berbicara soal otoritas belaka, tetapi bagaimana kita boleh melakukan fungsi sebagai kepala di tengah-tengah keluarga. Menjadi sumber informasi yang baik bagi mereka. Ini memang bukan hal yang mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk diterapkan. Akhirnya, selamat menjadi kepala! Doa saya menyertai Anda semua, baik Anda sebagai suami atau ayah di tengah-tengah keluarga Anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-3320773150058465051?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/3320773150058465051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=3320773150058465051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/3320773150058465051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/3320773150058465051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/laki-laki-adalah-kepala.html' title='LAKI-LAKI ADALAH KEPALA'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-6680548238103982846</id><published>2009-08-09T23:27:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T18:40:45.348-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='02-Produk Kami'/><title type='text'>Buku Laki-laki seperti yang Allah mau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn--OK9BdxI/AAAAAAAAAWk/GE4CHey_RHQ/s1600-h/Panggilan+Pria+(front).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn--OK9BdxI/AAAAAAAAAWk/GE4CHey_RHQ/s400/Panggilan+Pria+(front).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368218431516669714" /&gt;&lt;/a&gt;Ada banyak laki-laki -termasuk para pria Kristen yang tidak menyadari akan panggilan Allah di balik kelahiran dan keberadaan mereka sebagai seorang laki-laki di tengah-tengah keluarga dan komunitas mereka. Hal ini semakin diperburuk dengan berbagai mitos dan filsafat konyol tentang laki-laki yang ada di sekitar mereka. Akibatnya, mereka bukan hanya tidak menyadari akan panggilan Allah atas hidup mereka, tetapi mereka juga telah memiliki cara hidup yang cemar di tengah-tengah keluarga dan komunitas mereka. Ini tidak seharusnya terjadi. Dan buku ini telah hadir untuk memberikan penyadaran, pencerahan dan pemahaman akan panggilan Allah dan bagaimana kita boleh menjadi laki-laki seperti yang Allah mau. Mulai dari maksud Allah sejak dari penciptaan laki-laki yang pertama, kejatuhan laki-laki ke dalam dosa, merosotnya cara hidup laki-laki, penebusan Kristus di atas bukit Golgota, hingga perjuangan untuk menjadi pria yang sejati di dalam Kristus Yesus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-6680548238103982846?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/6680548238103982846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=6680548238103982846' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/6680548238103982846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/6680548238103982846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/telah-terbit-buku-untuk-laki-laki.html' title='Buku Laki-laki seperti yang Allah mau'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn--OK9BdxI/AAAAAAAAAWk/GE4CHey_RHQ/s72-c/Panggilan+Pria+(front).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-241779614803312858</id><published>2009-08-09T22:40:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T18:48:15.133-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='03-Kegiatan Kami'/><title type='text'>Modul Menjadi Pria yang Maksimal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn-7t_vVblI/AAAAAAAAAWc/CTF6hgLnQFs/s1600-h/KPE+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn-7t_vVblI/AAAAAAAAAWc/CTF6hgLnQFs/s400/KPE+01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368215679727398482" /&gt;&lt;/a&gt;WORD for MEN [The Ministry of Ezekiel] telah menyusun dan membuat modul Menjadi Pria yang Maksimal, untuk program materi kotbah di pertemuan ibadah Komunitas Pria Ecclesia selama satu tahun. Modul ini terdiri dari 12 materi kotbah tentang Menjadi Pria yang Maksimal. Modul ini tidak hanya berisi materi-materi kotbah selama satu tahun ke depan saja, tetapi juga berisi bahan-bahan pemuridan usai materi kotbah disampaikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-241779614803312858?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/241779614803312858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=241779614803312858' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/241779614803312858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/241779614803312858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/modul-menjadi-pria-yang-maksimal.html' title='Modul Menjadi Pria yang Maksimal'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn-7t_vVblI/AAAAAAAAAWc/CTF6hgLnQFs/s72-c/KPE+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-7956591324692245334</id><published>2009-08-09T22:35:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T18:39:11.617-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='02-Produk Kami'/><title type='text'>Renungan WORD for MEN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn-yOq7rWEI/AAAAAAAAAWU/qNiPLMedTaE/s1600-h/01-Feb+2006_401x212.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 106px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn-yOq7rWEI/AAAAAAAAAWU/qNiPLMedTaE/s400/01-Feb+2006_401x212.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368205245961427010" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah renungan harian yang dirancang dengan begitu rupa, hingga benar-benar membumi dengan kehidupan para pria Kristen dan boleh menjawab kebutuhan rohani mereka. Renungan harian para pria WORD for MEN lahir dari satu kerinduan untuk membawa para pria Kristen kembali ke dalam rencana Allah yang semula!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-7956591324692245334?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/7956591324692245334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=7956591324692245334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/7956591324692245334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/7956591324692245334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/renungan-word-for-men.html' title='Renungan WORD for MEN'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn-yOq7rWEI/AAAAAAAAAWU/qNiPLMedTaE/s72-c/01-Feb+2006_401x212.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-5467782260182253149</id><published>2009-08-09T22:26:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T18:47:17.508-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='03-Kegiatan Kami'/><title type='text'>Modul Men's Ministry</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn-w6WpAlsI/AAAAAAAAAWM/inCKk5fECb8/s1600-h/Men%27s+Ministry.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn-w6WpAlsI/AAAAAAAAAWM/inCKk5fECb8/s400/Men%27s+Ministry.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368203797405406914" /&gt;&lt;/a&gt;Pada tanggal 9, 16, 19, 26 Maret 2009, bertempat di GBI Ecclesia Taman Semanan, kami telah melakukan pembinaan bagi para fasilitator untuk Men's Camp -yang dilaksanakan pada tanggal 28-29 Maret 2009, yang dikoordinasi oleh tim pelayanan Pria Sejati Taman Semanan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-5467782260182253149?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/5467782260182253149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=5467782260182253149' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/5467782260182253149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/5467782260182253149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2009/08/modul-mens-ministry.html' title='Modul Men&apos;s Ministry'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/Sn-w6WpAlsI/AAAAAAAAAWM/inCKk5fECb8/s72-c/Men%27s+Ministry.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9057678015268282944.post-3397444331394440283</id><published>2008-03-22T00:23:00.001-07:00</published><updated>2009-08-09T23:31:36.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='01-Tentang Kami'/><title type='text'>Latar Belakang</title><content type='html'>Terbentuknya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;WORD for MEN&lt;/span&gt; Men's Ministry ini diawali dengan lahirnya renungan harian para pria WORD for MEN. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, Tuhan telah memimpin dan mengembangkan jangkauan pelayanan ini. Kini WORD for MEN tak hanya menerbitkan renungan harian saja, tetapi juga telah menjangkau area-area pelayanan yang lain untuk menjangkau dan melayani para pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dari renungan harian para pria, kini WORD for MEN juga menjangkau dan melayani para pria melalui artikel-artikel di berbagai majalah rohani. Tak hanya majalah-majalah rohani saja, tetapi juga telah merambah majalah sekuler. Salah satunya adalah media komunitas &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AdInfo&lt;/span&gt; yang beredar di delapan kawasan, yaitu di kawasan Puri, Pluit, Serpong, Cibubur, Depok, Bekasi dan Bogor. Hal yang unik dari artikel-artikel yang diterbitkan di majalah AdInfo ini adalah formatnya. Meski nilai-nilai yang disajikan adalah prinsip-prinsip Alkitab, tetapi bentuk penyajian tidak dikemas dalam bentuk 'Kristen'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WORD for MEN juga memberikan pelatihan-pelatihan (mentoring) yang berkaitan dengan pelayanan pria di gereja-gereja lokal. Tak hanya itu, WORD for MEN juga membantu untuk mengembangkan pelayanan pria di gereja-gereja lokal, mulai dari menyusun program, membuat modul, hingga memberikan pelatihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9057678015268282944-3397444331394440283?l=wordformen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wordformen.blogspot.com/feeds/3397444331394440283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9057678015268282944&amp;postID=3397444331394440283' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/3397444331394440283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9057678015268282944/posts/default/3397444331394440283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wordformen.blogspot.com/2008/03/latar-belakang.html' title='Latar Belakang'/><author><name>Word for Men</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08334975385846454542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Dymsxgwt-_E/SoDLUMGIMNI/AAAAAAAAAWw/mINi9YCTLuk/S220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
